

Pagi ini udara lembab. Itu karena sisa-sisa hujan kemarin sore masih meninggalkan jejaknya. Seperti tahun sebelumnya, Desember memang selalu datang dengan hujan yang hampir setiap hari. Matahari harusnya sudah terasa sengatnya. Namun, gumpalan awan memayungi kelompok siswa yang berjejer, membawa cuaca sedikit lebih sejuk. Setiap kelas tampil dengan jersey atau seragam olahraga, masing masing menunggu giliran untuk meneriakkan “yel-yel” penyemangat. Itu adalah bagian awal dari ritual untuk barisan karnaval, sebagai rangkaian pembukaan Porseni tanggal 3 sampai 6 Desember 2025.
Yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga: devile. Devile adalah perayaan melepas penat setelah ujian. Dimulai dengan teriakan-teriakan siswa yang meledak saat menyanyikan “yel-yel”. Teriakan sambung menyambung dengan nada tak beraturan. Namun, keseruan justru terdengar dari irama yang tak seragam. Barisan pun mulai mengular meninggalkan gerbang sekolah. Keluar dari gerbang, lalu belok kanan, terus kea rah utara. Barisan terus bergerak melewati pesimpangan Maccili dan Taureng, kompleks Pasar Panyula. Rombongan devile lanjut ke arah utara, melewati perempatan Caleppa, menuju Awassalo. Setelah melewati Sungai barisan belok ke arah kanan menuju Lappa’e.
Devile ini bukan sekadar rangkaian pembukaan porseni, tapi lebih terasa sebagai perjalanan wisata desa. Lorong-lorong yang kami masuki di Lappa’e, membawa kami beputar 90 derajat ke kampung Lajjamme. Seharusnya barisan menuju Lengkonge, tapi berdasarkan arahan panitia, rute kembali ke jalur utama menuju Awassalo, sebelum akhirnya belok kanan ke arah Selatan, kembali ke kompleks sekolah.
Devile yang meriah dengan teriakan-teriakan random siswa, seperti barisan pengawal revolusi yang siap terjun ke meda perang. Devile ini adalah sebuah awal dari rangkaian 4 hari perlombaan yang bakal memeras keringat dan mungkin air mata. Meski jarak devile tergolong dekat yakni kurang-lebih tiga kilometer, namun beberapa siswa ternyata mengalami kelelahan dan drop. Tiga orang siswa dari XI DPIB (Reski, Nanda, dan Fitri) harus mendapatkan perawatan intensif di kamar PKS.
Selain devile, yang membuat porseni kali ini lebih istimewa adalah kehadiran tenan-tenan menjajakan jajanan dari perwakilan organisasi eskul.
Saya merasakan kegiatan porseni dirangkaikan bazar pada hari senin (3 Desember) dengan suasana yang berbeda. Sebelumnya, hari senin selalu dimulai dengan upacara, dengan rangkaian kegiatan yang melelahkan dan membosankan. Senin kali ini, setelah “tour kampung”, kami akan melampiaskan gairah purba mahluk omnivora melalui “tour kuliner” di bazar Eksul.
Jadi, selama empat hari di sekolah, kita sibuk dengan lomba ketangkasan, ekspresi seni, dan pesta “mukbang”.
Lomba ketangkasan Porseni tahun ini diikuti oleh seluruh kelas dan bidang jurusan, menampilkan berbagai pertandingan seperti futsal, voli, tarik tambang, tenis meja, dan mobile legend. Sedangkan ekspresi seni, menyajikan solo vokal, puisi, akustik, vocal grub dan lomba kreativitas seni seperti senam kreasi. Suasana kompetitif terlihat sejak hari pertama, namun tetap menjunjung tinggi sportivitas.
Selain pertandingan ada banyak spot “mukbang”. Siswa dan pengunjung dimanjakan dengan bazar ekskul yang diisi oleh PKS, PMR, Paskibra, PIK-R, dan SSB. PKS menghadirkan stan minuman yang sangat di minati oleh para konsumen. “Extrajoss termasuk menu terlaris di tenan PKS,” itu karena faktor cuaca yang panas di siang hari.
Sementara, PMR menghadirkan minuman segar dan menggiurkan. Es teler adalah satu menu terlaris dengan isi durian di dalam wadahnya membuat orang yang menghirup baunya sampai tergoda untuk membelinya.
Sedangkan Paskibra menyediakan makanan berat untuk para konsumen seperti nasi goreng. Nasi goreng simpel dan terkesan “rumahan” namun ternyata cukup laris juga. Pak Uba, guru Sejarah dan sekaligus Pembina Esku Jurnalistik, menyempatkan diri menikmati nasi goreng murahan Paskibra. “Ya, lumayan, dan porsinya pas untuk makan siang,” kata Pak Uba.
Tenan lainnya menyediakan makanan makanan yang murah meriah dan lezat adalah PIK-R. Salah satu menu yang sangat laris manis yaitu jasuke. Penyebutan menu itu terdengar nama Jepang, tapi sebenarnya itu adalah singkatan dari “jagung susu keju.”
Sesuai dengan tema Porseni kali ini “Bersama dalam prestasi; bersatu dalam kreasi” panitia memberi panggung untuk SSB (sanggar seni budaya) untuk menghibur pengunjung. Dengan iringan musik akustik, beberapa artis SSB berhasil menghadirkan suasana “bising” dengan lagu-lagu yang cukup populer.
Selama empat hari pelaksanaan, area sekolah dipenuhi antusiasme siswa, guru, alumni, hingga pengunjung umum. Kepala sekolah menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang unjuk prestasi, tetapi juga sarana membangun kebersamaan, kreativitas, dan jiwa kewirausahaan peserta didik.
Acara resmi ditutup pada 8 Desember dengan pengumuman juara lomba Poresni dan pemberian tropi kepada kelas yang meraih juara. Kegiatan berjalan sukses dan meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh warga sekolah.
Porseni adalah kegembiraan dan cara terbaik untuk melenyapkan mumet setelah ujian. Tentu prestasi bukuan tujuan. Karena kreativitas tak harus dilombakan. Jadi, pemenang atau pecundang adalah sama dalam hal mengekspresikan diri, yang membedakan hanya tropi, eh.
Akhirnya, selamat kepada para pemenang dan “kuru sumange” kepada yang belum berhasil meraih tropi. (Jurnalistik: Jess, Salsa, Uba)
Copyright © 2022 – SMK Negeri 2 Bone.
All Rights Reserved. Made with by .